Kamis, 02 Oktober 2014

sejarah & tradisi kaliyetno ternadi

 
sejarah & tradisi kaliyetno ternadi

          Secara geografis, wisata alam Batu  Payung terletak di salah satu puncak dari Pegunungan Muria. Tepatnya di desa Ternadi, kecamatan Dawe Kudus. Terletak kira-kira 3,5 km ke utara dari balai desa Ternadi, atau 2 km dari kompleks makam Sunan Kaliyitno. Wisata alam Watu Payung bisa ditempuh kira-kira satu jam dengan jalan kaki, atau sekitar 25 menit dengan menggunakan sepeda motor. Eksotisme alam nan menantang tersaji di tengah-tengah perjalanan menuju Watu Payung. 

Air Tiga Rasa di Rejenu
Makam Syeh Sadzali
Banyak tempat ziarah dapat dikunjungi di Kabupaten Kudus. Salah satunya adalah makam Sunan Muria memang banyak menyedot wisatawan domestik hampir sepanjang tahun. Bahkan, di kawasan Gunung Muria, (kecamatan Dawe) tidak hanya makam Sunan Muria saja yang selalu dikunjungi masyarakat.
Di depan gapura Rejenu
Sebuah makam di sebelah utara makam Sunan Muria, di atas objek air terjun Montel. Tepatnya di Japan Utara yang dikenal dengan Rejenu yang berdasarkan astronomi berada di koordinat 6° 39′ 6″ LS 110° 54′ 10″ BT. Di sini terdapat sebuah makam yang banyak diziarahi orang. Orang mengenalnya sebagai makam Syeh Sadzali. Salah satu murid Sunan Muria yang disegani.
Untuk mencapai makam ini memang tidak segampang bila ingin ziarah ke makam Sunan Muria. Kawasan ini boleh dikatakan belum tersentuh ”tangan” pembangunan yang menyediakan fasilitas kemudahan. Masih alami. Listrikpun belum tersedia. Walau sekarang jalan menuju tempat tersebut telah diperlebar dan dilapisi beton sehingga banyak tersedia jasa ojek (melalui rute desa Japan). Sedangkan bila melalui Air terjun Montel masih harus melewati jalan setapak.
Yang datang berziarah tidak hanya dari Kudus. Banyak yang berasal dari kota-kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Sebagian lagi dari Palembang dan Kalimantan. Bahkan, dari Singapura dan Irlandia.
Air Tiga Rasa
Sejarah Syeh Sadzali masih penuh misteri. Pengurus Yayasan setempat sedang mengumpulkan data. Yang mereka yakini, Syeh itu salah satu murid Sunan Muria yang konon berasal dari Irak (Bagdad).
Minum air tiga rasa
Salah satu murid yang dikasihi karena pegang peranan penting ketika Sunan Muria mengadu kesaktian dengan Dampo Awang. Karena banyak yang iri kemudian tersisih atau disisihkan. Ada dugaan beliau menyingkir ke tempat dia dimakamkan sekarang ini di Rejenu.
Kompleks ini memang banyak mengandung misteri karena masih banyak makam yang belum dikenali. Ada pula tiga mata air yang memiliki tiga rasa khas dan boleh dibilang ajaib. Ketiga air memiliki rasa seperti minuman Sprite. Namun ketajaman rasa satu sama lain berbeda.
Air ini dipercaya mempunyai banyak khasiat. Bagi yang percaya, dengan minum air itu jiwa mereka akan menjadi lebih tenang. Rasa percaya diri mereka lebih tebal. Selain itu dipercaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit.
Konon, dulunya mata air ini terdiri atas 4 macam yang bilamana keempat-empatnya dicampur dapat mengabulkan apapun permohonan peminumnya. Oleh Syeh Sadzali, mata air keempat ditutup. Karena tidak jarang ada peziarah yang melakukan tirakatan di sekitar Air Tiga Rasa agar mampu melihat dan mengambil air dari sumber mata air yang keempat tadi.
Obyek lainnya
Selain itu, ternyata masih ada beberapa objek lain yang berdekatan dengan makam Syeh Sadzli dan Air Tiga Rasa ini. Objek-objek itu antara lain:
Air terjun. Cukup tinggi, tak kalah dengan air terjun Montel di Colo. Namun, jalan ke arah sana baru jalan setapak atau lewat aliran Sungai Rejenu.
Gua Jepang.
Makam Syeh Subakir dan Ali Murtadho. Di sebelah atas melalui jalan setapak yang terjal.
Sendang Anglingdarmo.
Selain itu, Rejenu (Makan Syeh Sadzli dan Air Tiga Rasa) merupakan pos pendakian terakhir bagi yang ingin mendaki ke Puncak Argowiloso maupun Argojembangan. Dua diantara beberapa puncak tertinggi Gunung Muria
Fasilitas yang tersedia
Saat kemarau, debit airnya menurun
Meski berada di tengah hutan terkepun aneka puncak bukit di Gunung Muria dan tanpa aliran listrik, pengunjung dapat menikmati berbagai fasilitas yang tersedia, semisal:
Ojek, bagi yang malas berjalan kaki
Warung makan yang buka 24 jam
Kamar penginapan sederhana di setiap warung
Musala
Kamar mandi
Bagi yang menyukai camping bisa memanfaatkan area di sekitar objek ini untuk mendirikan tenda.
Potensi ini memang fenomena yang menarik untuk dikembangkan di masa mendatang. Sayang, objek wisata ziarah di Kabupaten Kudus belum dikelola secara profesional oleh Pemkab Kudus. Tercermin dari seberapa jauh dana APBD yang disediakan di sektor itu. Tanpa dukungan dana memadai, objek wisata seperti Gunung Muria (Sunan Muria dan Pesanggrahan Colo) terpaksa tampil dengan fasilitas terbatas. Jika demikian, pengembangan suatu objek wisata tinggal impian saja.

Kamis, 18 September 2014

Masjid Agung Demak adalah salah satu mesjid tertua yang ada di Indonesia. Masjid ini terletak di desa Kauman, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Masjid ini dipercayai pernah menjadi tempat berkumpulnya para ulama (wali) yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang disebut denganWalisongo. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak sekitar abad ke-15 Masehi.
Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan masjid yang karismatik ini dengan memberi gambar serupa bulus. Ini merupakan candra sengkala memet, dengan arti Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka. Masjid ini didirikan pada tanggal 1 Shofar.

Arsitektur[sunting | sunting sumber]

Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Salah satu dari tiang utama tersebut konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamaisaka tatal. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, mengandung candra sengkala, yang dapat dibaca Naga Mulat Salira Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.
Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di kompleks ini juga terdapat Museum Masjid Agung Demak, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat Masjid Agung Demak.
Masjid Agung Demak dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1995.

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Indonesia) "Rumah Jawa" (html). Diakses 2012-10-9. "Bangunan dengan atap bertingkat dalam arsitektur Jawa menunjukan strata sosial."

Kerajaan Demak

05APR
Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam terbesar di pantai utara Jawa (“Pasisir“). Menurut tradisi Jawa, Demak sebelumnya merupakan keadipatian (kadipaten) dari kerajaan Majapahit, dan tercatat menjadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya.
Kerajaan Demak tidak berumur panjang dan segera mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan di antara kerabat kerajaan. Pada tahun 1568, kekuasaan Demak beralih ke Kerajaan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tingkir. Salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang menurut tradisi didirikan oleh Walisongo.
Lokasi keraton Demak, yang pada masa itu berada di tepi laut, berada di kampung Bintara (dibaca “Bintoro” dalam bahasa Jawa), saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah. Sebutan kerajaan pada periode ketika beribukota di sana dikenal sebagai Demak Bintara. Pada masa raja ke-4 ibukota dipindahkan ke Prawata (dibaca “Prawoto”) dan untuk periode ini kerajaan disebut Demak Prawata.